~ GEREJA IBU TERESA CIKARANG ~

images

Hari Ibu

Sejarah
Seperti yang kita tahu, Hari Ibu dirayakan setiap tanggal 22 Desember. Penetapan 22 Desember
sebagai Hari Ibu ini dilakukan oleh Presiden Soekarno di bawah Dekrit Presiden No. 316 thn. 1953, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, Hari Ibu atau Mother's Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei.

 

Pemaknaan
Berbicara pemaknaaan Hari Ibu, tentu sangat tergantung dari pengalaman hidup dan penjiwaan masing-masing pribadi. Karena terlalu biasa dan dekatnya seorang “Ibu”, maka akhirnya menjadi kesulitan tersendiri untuk memaknainya.

Ibu adalah rahim kehidupan. Ada nas dalam perjanjian lama, “Sebelum engkau dikandung di dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau”. Sang Ibulah, yang pertama kali memahami kehadiranmu, sebagai perwujudan yang hidup atas kasih ibu dan ayah dan rahmat Ilahi di dalam rahimnya. Ibulah yang paling memahami arti “sabda yang hidup” di dalam dirinya. Seorang ibu akan menjaga dirinya dengan amat baik agar menjadi tempat sempurna tumbuhnya kehidupan di dalam dirinya. Sang Ibu sungguh tahu arti nyata mengekang diri dalam menyambut kehidupan itu.

Ibu adalah kasih yang hidup. Ibulah yang mampu merasakan dirimu karena dirimu adalah bagian dari dirinya. Engkau makan dan minum oleh dia, engkau tumbuh, berkembang dan hidup oleh dia. Bila dirimu sakit, maka ia akan menangisi dirimu dan berdoa agar dirimu lekas sehat. Ia tidak lagi memikirkan dirinya, melainkan dirimu yang dulu hidup didalam rahimnya. Jadi ke mana kita akan belajar memahami arti nas ini: “Cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri?” Atau kata-kata Paulus ini: “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku?” Kepada ibu!

Ibu adalah kasih yang sejati. Dalam proses persalinan, sang Ibu mempertaruhkan nyawanya. Rasa sakit dan resikonya dihadapinya dengan doa, kepasrahan dan semangat kebahagiaan akan kehadiranmu di dunia. Saat engkau terlahir, kebahagiaan sang ibu akan dirimu membuat dirinya lupa akan deritanya. Engkau yang lemah, kecil, tak berdaya tapi aman di dalam kasihnya. Ia tahu yang engkau perlukan. Peluknya, sayangnya adalah cinta yang sangat indah.

Ibu adalah malaikat pelindung dan penolong. Adalah waktu yang lama menyaksikan pertumbuhanmu dari lahir, kanak-kanak, remaja dan dewasa. Namun bagi seorang ibu, waktu itu terasa cepat. Ia yang menggendong dan menimangnimang dirimu saat masih bayi dan anak-anak. Percayalah, bahwa ibu ingin waktu-waktu tersebut tidak cepat berlalu. Ia ingin selalu menimangmu bahkan saat engkau dewasa! Saat engkau terlelap dalam tidurmu, ibu sering memandangi wajahmu dengan cinta, belaian, senyuman dan harapan yang tulus. Saat engkau sekolah, ibu menyertaimu dengan doa perlindungan dan harapan.

Ibu adalah kesetiaan. Mungkin banyak orang berpendapat bahwa apabila anak-anak sudah selesai pendidikannya, sudah bekerja, tugas sebagai orang tua, dan ibu tentunya, sudah selesai. Tidak! Ibu akan setia meneleponmu, mendoakanmu. Karena cintanya, bahwa engkau harus menemukan panggilanmu dan menemukan pasangan dalam hidupmu, maka Ibu membiarkanmu hidup mandiri, namun doanya terus mengalir mengharapkan agar engkau hidup jauh lebih bahagia dari pada dia sendiri. Dia setia, cintanya abadi, hanya memberi, tak harap kembali, bagai Sang Surya, menyinari dunia!

Refleksi : Dengan apa aku membalas kasih ibu ku? Hadiah apa yang ingin ku siapkan di Hari Ibu nanti?


Marcelinus Haryanto
sumber : wikipedia



Dipost Oleh Simon

~ Simon ~

Tinggalkan Komentar